Aku
membayangkan diriku berdiri di tepi tebing yang curam. Disana aku berteriak
sekencang-kencangnya dan sekeras-kerasnya. Setelah itu aku duduk beralaskan
kaki dilipat ke belakang(seperti duduk diantara dua sujud gitulah,) dan
menangis sekuat-kuatnya, mengeluarkan air mata sebanyak yang aku bisa
keluarkan. Tiba-tiba aku teringat wajah laki-laki putih dan berambut putih itu.
Kulitnya sungguh putih pucat
– bagaikan mayat. Cincin emas di jari manis di tangan kiriku ini adalah
pemberiannya, dan kubuang jauh-jauh, JAUH................. sekali. Lalu aku
berlari.., berlari.., dan berlari di gurun pasir. Tiba-tiba terlihat air
disana, Oh... setelah kudekati dan kudatangi ternyata itu hanya oasis, SIAL.
Lalu aku berlari dan berlari seperti cheetah yang sedang berlari dengan penuh
semangat, gairah, dan antusias. Cheetah itu tidak tahu apa yang menjadi tujuan
dia berlari dan apa yang dimangsanya atau pun yang dikejarnya. Cheetah itu
berlari , berlari , dan berlari – (Cheetah ini belum berhenti berlari hingga si
penulis berubah sikap)
Sebenarnya cheetah itu
sedih, dia tidak punya teman. Dia tidak bisa berteman. Dia merasa semua orang
mengasingkannya meskipun tidak begitu kenyataannya. Si cheetah tahu akan hal
itu, tetapi perasaannya sungguh terpenjara diantara orang banyak dan ia merasa
sedih. Sungguh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar