Pendahuluan (Part 2)
...
Percaya Pada
Waktu
Orang bijak mengatakan: “Segala sesuatu ada WAKTUnya”, namun
kita seringkali tidak sabar dan lebih mempercayai pada kemampuan latihan untuk
memacu hasil secepatnya. Praktik-praktik “perangsangan” dan “pengarbitan”
sangat mewarnai perilaku manusia dewasa ini di segala bidang dengan alasan
efisiensi dan efektivitas. Sawah-sawah sekarang menjadi mandul dan lingkungan
hancur karena program intensifikasi pertanian dengan bahan-bahan kimia sebagai
penyubur tanah dan pembunuh hama. Kearifan Jawa mengingatkan, “Ojo nggege mongso”—jangan mendahului
waktu, namun banyak orang sepertinya tak peduli. Di dunia pendidikan, maraknya
lembaga bimbingan dan les yang menawarkan solusi instan untuk meraih sukses
ditambah buku-buku latihan soal merupakan contoh bagaimana perilaku yang ingin
“memaksa waktu” bisa menjadi peluang bisnis. Tak ketinggalan, vitamin, minuman
dan makanan suplemen ikut meramaikan polusi terhadap WAKTU. Iklan-memiliki pola
yang sama, “Ingin cepat ......... ,
pakailah ...... “ Dalam tradisi
Hinduisme dan Kejawen, waktu dipersonifikasikan sebagai raksasa bernama Betara
Kala yang akan memangsa manusia yang “menyimpang dari waktu”. Oleh karena itu
anak-anak yang dianggap lahir secara “melawan waktu” harus menjalani upacara ruwatan agar selamat dari ancaman Betara
Kala, dan tidak mengganggu harmoni kehidupan. Di samping setiap anak memiliki
daya pertumbuhan dalam dirinya sendiri, dalam tahapan pertumbuhan itu pun
pemekaran atau pencapaian memiliki waktunya sendiri-sendiri. Psikologi
perkembangan boleh saja memberi batasan-batasan usia untuk mencapai kemampuan
tertentu, namun setiap anak memiliki keunikannya sendiri, memiliki WAKTUnya
sendiri. Ada anak yang cepat bicara, namun mungkin berjalan agak terlambat,
atau sebaliknya. Kalau pun tanda-tanda yang kasat mata tidak tampak, Anda tak
perlu cemas karena banyak proses mental yang sedang berlangsung tanpa bisa kita
lihat. Jutaan sel saraf dengan tugasnya masing-masing sedang berproses, tinggal
menunggu saat pemekarannya. Biarlah anak-anak menjalani proses pertumbuhan dan
mencapai pemekaran menurut ritmenya masing-masing. Anak-anak tidak butuh
perangsangan atau obat pemacu, Anda mesti lebih mempercayai potensi ciptaan
Sang Maha Pencipta daripada buatan pabrik yang bermotivasi mencari profit.
Bukankah kita percaya bahwa Tuhan lah yang menciptakan anak-anak kita? Pasti
Dia juga melengkapinya dengan piranti-piranti yang akan digunakan dalam hidup
ini. Kalau tanaman pun tahu kapan harus bercabang, kapan harus berbunga, dan
kapan harus berbuah, apalagi anak-anak kita!
Sejatinya yang
paling dibutuhkan anak-anak kita adalah WAKTU, berikanlah waktu kepadanya.
Memberi waktu berarti belajar mengasuh dengan kesabaran. Memberi waktu juga
berarti belajar memberikan kehadiran kita kepadanya. Di tengah kesibukan (bussines) dan padatnya agenda Anda,
pernahkan Anda mengalokasikan waktu, bahkan memberi prioritas untuk anak?
Berhubung belum ada mesin yang bisa memproduksi waktu, ada bahaya kita
mengorbankan waktu yang semestinya untuk anak-anak karena kekurangan waktu
untuk urusan lain. Serasa ada pembenaran dan bebas dari rasa bersalah karena
kita sudah mengompensasikan waktu dan kehadiran kita untuk anak-anak dengan
menyediakan baby sitter, pembantu,
guru privat, les ini-itu, sopir pribadi, mainan, dan lain lain. Dengan
demikian, orang tua merasa berhak melakukan hal-hal yang “lebih besar”, apalagi
juga demi masa depan anak-anak! Agar Anda tidak menyesal di kemudian hari,
investasikan waktu Anda untuk anak-anak. Pernah saya membuat riset sederhana
dengan meminta anak-anak kelas 1SD mengungkapkan perasaan sedih dengan
pertanyaan, “Kapan kamu merasa sedih?”
hampir sebagian besar anak-anak memiliki perasaan sedih jika mereka merasa jauh
dari orang tuanya. Misalnya, “Ketika Papa seharian tidak pulang”, “Mama tugas
ke luar kota”, “Ketika di rumah tak ada siapa-siapa”, dan lain lain. Hadir
bersama anak-anak dengan penuh kesabaran berarti membiarkan anak-anak menikmati
pertumbuhan menurut jalannya sendiri. Inilah pilihan bijak orang tua yang
mengharapkan anak-anaknya bisa tumbuh dengan bahagia, bukan hanya di masa
depan, melainkan sekarang juga. Hanya anak-anak yang sekarang bahagia lah
nantinya bisa menjadi orang-orang dewasa yang bahagia juga.
Masih tentang
waktu, anak-anak menghayati waktu sangat berbeda dari orang dewasa. Tiga
dimensi waktu—masa lalu, masa kini, dan masa depan – bagi orang dewasa sangat
tegas batas-batasnya, bahkan obsesinya lebih ke masa depan, sedangkan bagi
anak-anak waktu merupakan satu keutuhan dan lebih berfokus pada masa sekarang
ini. Bagi anak-anak, apa yang sedang berlangsung saat ini adalah realitas yang
paling penting, sehingga waktu pun terasa berjalan lebih lamban bagi mereka
dibanding orang dewasa yang cenderung merasakan waktu sebagai sesuatu yang
mengejar terus. Betapa sering orang tua khawatir dengan perilaku anaknya yang
lebih suka bermain daripada belajar untuk mempersiapkan masa depan. Kalau
anak-anak seakan tidak peduli dengan masa depannya, bukan berarti mereka
“malas” atau “acuh tak acuh”. Sudut pandang dan penghayatannya tentang waktu
lah yang berbeda dari kita orang dewasa ini. Sekolah sebagai lembaga yang
mempersiapkan “masa depan” anak-anak seringkali kurang memahami perbedaan ini,
sehingga program-programnya lebih berorientasi ke masa depan dengan mengabaikan
masa sekarang dan merampas kebahagiaan anak-anak. Biarlah anak-anak menikmati
kebahagiaan sekarang ini karena pengalaman masa kanak-kanak yang indah akan
menentukan cara memaknai hidupnya di masa yang akan datang. Ingatlah
kebahagiaan sejati senantiasa ditemukan di masa sekarang, bukan di masa lalu
atau masa depan. Ironisnya, sesungguhnya secara alamiah anak-anak sudah tahu
bagaimana caranya menemukan itu, namun justru orang dewasa yang menyeret dan
membebaninya dengan persoalan masa depan.
...
Pendahuluan (Part 4)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar