Sumber : http://andriblovers.blogspot.com/2012/02/cara-supaya-artikel-blog-tidak-bisa-di.html#ixzz1rPmjfh4K N21K Library: Pendahuluan (Part 3)

Jumat, 30 Maret 2012

Pendahuluan (Part 3)

Pendahuluan (Part 2)
...

Percaya Pada Waktu
Orang bijak mengatakan: “Segala sesuatu ada WAKTUnya”, namun kita seringkali tidak sabar dan lebih mempercayai pada kemampuan latihan untuk memacu hasil secepatnya. Praktik-praktik “perangsangan” dan “pengarbitan” sangat mewarnai perilaku manusia dewasa ini di segala bidang dengan alasan efisiensi dan efektivitas. Sawah-sawah sekarang menjadi mandul dan lingkungan hancur karena program intensifikasi pertanian dengan bahan-bahan kimia sebagai penyubur tanah dan pembunuh hama. Kearifan Jawa mengingatkan, “Ojo nggege mongso”—jangan mendahului waktu, namun banyak orang sepertinya tak peduli. Di dunia pendidikan, maraknya lembaga bimbingan dan les yang menawarkan solusi instan untuk meraih sukses ditambah buku-buku latihan soal merupakan contoh bagaimana perilaku yang ingin “memaksa waktu” bisa menjadi peluang bisnis. Tak ketinggalan, vitamin, minuman dan makanan suplemen ikut meramaikan polusi terhadap WAKTU. Iklan-memiliki pola yang sama, “Ingin cepat ......... , pakailah ...... “  Dalam tradisi Hinduisme dan Kejawen, waktu dipersonifikasikan sebagai raksasa bernama Betara Kala yang akan memangsa manusia yang “menyimpang dari waktu”. Oleh karena itu anak-anak yang dianggap lahir secara “melawan waktu” harus menjalani upacara ruwatan agar selamat dari ancaman Betara Kala, dan tidak mengganggu harmoni kehidupan. Di samping setiap anak memiliki daya pertumbuhan dalam dirinya sendiri, dalam tahapan pertumbuhan itu pun pemekaran atau pencapaian memiliki waktunya sendiri-sendiri. Psikologi perkembangan boleh saja memberi batasan-batasan usia untuk mencapai kemampuan tertentu, namun setiap anak memiliki keunikannya sendiri, memiliki WAKTUnya sendiri. Ada anak yang cepat bicara, namun mungkin berjalan agak terlambat, atau sebaliknya. Kalau pun tanda-tanda yang kasat mata tidak tampak, Anda tak perlu cemas karena banyak proses mental yang sedang berlangsung tanpa bisa kita lihat. Jutaan sel saraf dengan tugasnya masing-masing sedang berproses, tinggal menunggu saat pemekarannya. Biarlah anak-anak menjalani proses pertumbuhan dan mencapai pemekaran menurut ritmenya masing-masing. Anak-anak tidak butuh perangsangan atau obat pemacu, Anda mesti lebih mempercayai potensi ciptaan Sang Maha Pencipta daripada buatan pabrik yang bermotivasi mencari profit. Bukankah kita percaya bahwa Tuhan lah yang menciptakan anak-anak kita? Pasti Dia juga melengkapinya dengan piranti-piranti yang akan digunakan dalam hidup ini. Kalau tanaman pun tahu kapan harus bercabang, kapan harus berbunga, dan kapan harus berbuah, apalagi anak-anak kita!
Sejatinya yang paling dibutuhkan anak-anak kita adalah WAKTU, berikanlah waktu kepadanya. Memberi waktu berarti belajar mengasuh dengan kesabaran. Memberi waktu juga berarti belajar memberikan kehadiran kita kepadanya. Di tengah kesibukan (bussines) dan padatnya agenda Anda, pernahkan Anda mengalokasikan waktu, bahkan memberi prioritas untuk anak? Berhubung belum ada mesin yang bisa memproduksi waktu, ada bahaya kita mengorbankan waktu yang semestinya untuk anak-anak karena kekurangan waktu untuk urusan lain. Serasa ada pembenaran dan bebas dari rasa bersalah karena kita sudah mengompensasikan waktu dan kehadiran kita untuk anak-anak dengan menyediakan baby sitter, pembantu, guru privat, les ini-itu, sopir pribadi, mainan, dan lain lain. Dengan demikian, orang tua merasa berhak melakukan hal-hal yang “lebih besar”, apalagi juga demi masa depan anak-anak! Agar Anda tidak menyesal di kemudian hari, investasikan waktu Anda untuk anak-anak. Pernah saya membuat riset sederhana dengan meminta anak-anak kelas 1SD mengungkapkan perasaan sedih dengan pertanyaan, “Kapan kamu merasa sedih?” hampir sebagian besar anak-anak memiliki perasaan sedih jika mereka merasa jauh dari orang tuanya. Misalnya, “Ketika Papa seharian tidak pulang”, “Mama tugas ke luar kota”, “Ketika di rumah tak ada siapa-siapa”, dan lain lain. Hadir bersama anak-anak dengan penuh kesabaran berarti membiarkan anak-anak menikmati pertumbuhan menurut jalannya sendiri. Inilah pilihan bijak orang tua yang mengharapkan anak-anaknya bisa tumbuh dengan bahagia, bukan hanya di masa depan, melainkan sekarang juga. Hanya anak-anak yang sekarang bahagia lah nantinya bisa menjadi orang-orang dewasa yang bahagia juga.
Masih tentang waktu, anak-anak menghayati waktu sangat berbeda dari orang dewasa. Tiga dimensi waktu—masa lalu, masa kini, dan masa depan – bagi orang dewasa sangat tegas batas-batasnya, bahkan obsesinya lebih ke masa depan, sedangkan bagi anak-anak waktu merupakan satu keutuhan dan lebih berfokus pada masa sekarang ini. Bagi anak-anak, apa yang sedang berlangsung saat ini adalah realitas yang paling penting, sehingga waktu pun terasa berjalan lebih lamban bagi mereka dibanding orang dewasa yang cenderung merasakan waktu sebagai sesuatu yang mengejar terus. Betapa sering orang tua khawatir dengan perilaku anaknya yang lebih suka bermain daripada belajar untuk mempersiapkan masa depan. Kalau anak-anak seakan tidak peduli dengan masa depannya, bukan berarti mereka “malas” atau “acuh tak acuh”. Sudut pandang dan penghayatannya tentang waktu lah yang berbeda dari kita orang dewasa ini. Sekolah sebagai lembaga yang mempersiapkan “masa depan” anak-anak seringkali kurang memahami perbedaan ini, sehingga program-programnya lebih berorientasi ke masa depan dengan mengabaikan masa sekarang dan merampas kebahagiaan anak-anak. Biarlah anak-anak menikmati kebahagiaan sekarang ini karena pengalaman masa kanak-kanak yang indah akan menentukan cara memaknai hidupnya di masa yang akan datang. Ingatlah kebahagiaan sejati senantiasa ditemukan di masa sekarang, bukan di masa lalu atau masa depan. Ironisnya, sesungguhnya secara alamiah anak-anak sudah tahu bagaimana caranya menemukan itu, namun justru orang dewasa yang menyeret dan membebaninya dengan persoalan masa depan.

...
Pendahuluan (Part 4)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar