Pendidikan dini terhadap anak-anak
merupakan kunci keberhasilannya di masa depan. Karena itu, telah terjadi
pemahaman yang mengibaratkan anak adalah sebuah "wadah
kosong" yang harus dituangi berbagai ilmu. Namun wadah itu ada yang
bisa menampung banyak, ada yang sedikit, bahkan ada yang bocor. Timbul label,
ada anak unggul, cerdas, normal, bodoh dan lain-lain. Anak-anak yang atas
namanya sendiri tidak pernah minta dilahirkan ini harus menanggung stigma yang
bukan karena perbuatannya. Mereka hanya membutuhkan WAKTU. Karena itu, kita
harus bisa menerima dan menghargai sebagaimana adanya dan yakin bahwa ia punya
makna bagi kehidupan ini, ia bukan sampah yang harusa disingkirkan.
Buku ini mencoba memberi wawasan secara
positif perihal pendidikan anak serta kiat-kiat yang dibutuhkannya agar anak
bisa tumbuh menjadi dirinya sendiri, yang pada akhirnya akan mampu memberi
makna terhadap panggilan hidup yang dipilihnya secara bebas.
Biografi:
Paul Subiyanto, pria kelahiran Bantul ini,
sangat besar perhatiannya terhadap pendidikan anak. Prinsipnya bahwa Tuhan
Tidak Menciptakan Sampah, telah menyemangatinya untuk terus bergelut di bidang
pendidikan. Ia, yang lulus dari IKIP Santa Dharma tahun 1991, selain aktif
sebagai Direktur Pendidikan Yayasan Adhi Mekar Indonesia (AMI), juga aktif
menulis buku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar