Pendahuluan (Part 1)
... .Agar Anda bisa berhasil dalam
mendampingi dan menghantar anak-anak Anda menemukan kesuksesan dalam hidup,
perlu kiranya Anda meyakini 3 Kebenaran
berikut ini:
Percaya Pada Daya
Pertumbuhan
Saya pernah tertegun menyaksikan
fenomena sederhana ini: lantai beton yang keras itu bisa retak karena sebutir
biji lamtoro, yang tanpa sengaja
tercampur adonan semen, merekah menjadi kecambah. Biji kecil yang lunak ini
ternyata menyimpan daya pertumbuhan yang dahsyat di dalam dirinya sendiri. Tak
ada pengaruh eksternal apa pun yang mendorong pertumbuhan tersebut, sebagai orang
beriman kita bisa meyakini fenomena itu merupakan kemahakuasaan Tuhan, mungkin
ilmuwan yang atheis boleh saja menganggap sebagai daya yang dimiliki “gen”
lamtoro yang sudah memiliki cetak birunya. Apa pun cara pandangnya, harus
diakui bahwa ada daya pertumbuhan yang sudah built-up dalam biji lamtoro tersebut. Memang, apakah lamtoro itu
akan tumbuh menjadi pohon raksasa atau segera layu dan mati, akan sangat
tergantung pada lingkungan dan perlakuan sekitarnya. Sekarang kita bisa menarik
analogi, kalau sebutir lamtoro saja memiliki daya pertumbuhan yang luar biasa,
bagaimana dengan manusia? Spesies terunggul yang menghuni planet bumi ini tentu
memiliki daya pertumbuhan yang jauh lebih dahsyat dibanding sebutir biji
lamtoro. Namun demikian, kita seringkali mengabaikan kebenaran tersebut. Kita
beranggapan bahwa anak sebagai wadah kosong atau kertas putih yang semuanya
tergantung dari perlakuan kita. Tak jarang kita justru menghalangi daya
pertumbuhan alamiah tersebut dengan berbagai upaya yang sering mengatasnamakan
“pendidikan”. Bayangkan, Anda sedang melakukan tindakan untuk mempercepat
pertumbuhan pada pertumbuhan pada sebutir biji dengan cara mencongkel atau
mengupasnya, tumbuhan yang dihasilkannyapun akan cacat dan terganggu selamanya.
Kendati banyak iklan
menawarkan berbagai makanan suplemen untuk ibu hamil agar bayinya bisa tumbuh
sehat, jangan terkecoh seakan-akan makanan sejenis itulah yang menumbuhkan bayi
Anda. Tanpa makanan semacam itu pun, bahkan seandainya tanpa dikehendaki oleh
si ibu sekali pun, tetap saja ada daya pertumbuhan yang tak bisa dihalangi
dalam diri bayi tersebut. Y ang bisa kita buat hanya memberikan ruang, kondisi,
dan memenuhi kebutuhan agar proses pertumbuhan itu tak terhalang. Hal yang sama
terjadi ketika anak sudah berada di luar kandungan, yakinilah bahwa ada daya
pertumbuhan yang secara alamiah mendorong dan menempuh jalannya sendiri.
Bayangkan sebatang tanaman, sore hari berupa tunas, pagi harinya sudah berubah
menjadi daun atau bunga atas kekuatannya sendiri. Ada pengalaman menarik dari
seorang bapak ketika menjalani sebagai tahanan politik sementara anaknya masih
kecil-kecil. Suatu hari saya sempat bertanya bagaimana caranya mengatasi rasa
rindu dan kecemasannya terhadap anak-anak yang ditinggalkannya. Lalu ia
bercerita bahwa kerinduan terhadap anak-anak memang merupakan siksaan terberat
yang harus dijalaninya sampai suatu ketika ia disadarkanmoleh sebatang tanaman
yang tumbuh di luar pagar. Tiba-tiba ada sebatang pohon menyembul dari balik
pagar, semula tak pernah kelihatan karena tingginya masih di bawah pagar. Hari
pertamanya hanya tampak tunas kecil, hari berikutnya semakin naik dan
seterusnya bertambah tinggi hingga menjadi sebatang pohon yang menjulang
melampaui pagar. Tanpa sadar bapak tersebut terus mengamati pertumbuhan tanaman
itu dari hari ke hari di tengah kesepian hatinya. Kegelisahan dan
kekhawatirannya mengenai bagaimana nasib anak-anaknya sepeninggal dirinya (ia
tak pernah tahu apakah besok masih hidup atau sudah hilang), tiba-tiba diganti
kesadaran baru melalui tanaman tersebut. Katanya dalam hati, “Anak-anakku pun sama dengan pohon itu, ia
tetap tumbuh dan berkembang ada maupun tidak ada aku. Kalau Tuhan tetap
berkarya terhadap pohon itu, Ia pun tak akan berhenti menumbuhkan anak-anakku”.
Kesadaran baru ini membuat dirinya terbebas dari kegelisahan bahkan memberi
harapan baru, karena perasaan-perasaan negatif justru diganti dengan kegairahan
berpikir positif tentang perkembangan anak-anaknya. Ia selalu membayangkan
hal-hal positif terhadap ank-anaknya, dan memelihara keyakinan bahwa suatu saat
nanti pasti berjumpa. Ketika bapak itu telah dibebaskan, ternyata anak-anaknya
memang tumbuh dengan baik kendati dalam situasi sulit.
Kecemasan dan
kegelisahan bersumber pada ketakutan yang belum diketahui, di samping harapan-harapan
yang berlebihan, orang tua pun seringkali mencemaskan anak-anaknya tanpa alasan
yang jelas. Ada orang tua yang cemas melihat anaknya belum lancar bicara
sementara anak tetangga yang sebaya sudah fasih. Banyak saya jumpai di
kelas-kelas Taman Kanak Kanak, orang tua yang cemas melihat anaknya tidak
berminat belajar membaca dan lebih suka bermain. Lebih buruk lagi, orang tua
mulai memaksakan kehendaknya atas dasar kecemasannya yang tak beralasan. Oleh
sebab itu, membangun keyakinan bahwa dalam diri setiap anak sudah terkandung
potensi pertumbuhan alamiah, dan saat ini sedang berproses menurut caranya
sendiri akan membebaskan kita dari kecemasan dan pemaksaan terhadap anak-anak. Ibaratnya,
Sang Penabur sudah menyebarkan benih: ada yang jatuh di tanah subur, di pasir,
di bebatuan, bahkan tersangkut di semak. Benih itu pasti dengan kekuatannya
sendiri akan berubah menjadi kecambah, namun pertumbuhan selanjutnya akan
dipengaruhi lingkungan sekitarnya. Orang tua dan orang dewasa lainnyalah yang
bertugas menciptakan lingkungan bagi pertumbuhan benih itu. Tugas kita adalah
menjadi tanah subur, dan benih akan tumbuh dengan sendirinya, tak mungkin biji
kacang akan tumbuh menjadi tanaman bayam kendati kita menginginkannya.
...
Pendahuluan (Part 3)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar