Sumber : http://andriblovers.blogspot.com/2012/02/cara-supaya-artikel-blog-tidak-bisa-di.html#ixzz1rPmjfh4K N21K Library: Pendahuluan (Part 2)

Jumat, 30 Maret 2012

Pendahuluan (Part 2)

Pendahuluan (Part 1)

... .Agar Anda bisa berhasil dalam mendampingi dan menghantar anak-anak Anda menemukan kesuksesan dalam hidup, perlu kiranya Anda meyakini 3 Kebenaran berikut ini:
Percaya Pada Daya Pertumbuhan
Saya pernah tertegun menyaksikan fenomena sederhana ini: lantai beton yang keras itu bisa retak karena sebutir biji lamtoro, yang tanpa sengaja tercampur adonan semen, merekah menjadi kecambah. Biji kecil yang lunak ini ternyata menyimpan daya pertumbuhan yang dahsyat di dalam dirinya sendiri. Tak ada pengaruh eksternal apa pun yang mendorong pertumbuhan tersebut, sebagai orang beriman kita bisa meyakini fenomena itu merupakan kemahakuasaan Tuhan, mungkin ilmuwan yang atheis boleh saja menganggap sebagai daya yang dimiliki “gen” lamtoro yang sudah memiliki cetak birunya. Apa pun cara pandangnya, harus diakui bahwa ada daya pertumbuhan yang sudah built-up dalam biji lamtoro tersebut. Memang, apakah lamtoro itu akan tumbuh menjadi pohon raksasa atau segera layu dan mati, akan sangat tergantung pada lingkungan dan perlakuan sekitarnya. Sekarang kita bisa menarik analogi, kalau sebutir lamtoro saja memiliki daya pertumbuhan yang luar biasa, bagaimana dengan manusia? Spesies terunggul yang menghuni planet bumi ini tentu memiliki daya pertumbuhan yang jauh lebih dahsyat dibanding sebutir biji lamtoro. Namun demikian, kita seringkali mengabaikan kebenaran tersebut. Kita beranggapan bahwa anak sebagai wadah kosong atau kertas putih yang semuanya tergantung dari perlakuan kita. Tak jarang kita justru menghalangi daya pertumbuhan alamiah tersebut dengan berbagai upaya yang sering mengatasnamakan “pendidikan”. Bayangkan, Anda sedang melakukan tindakan untuk mempercepat pertumbuhan pada pertumbuhan pada sebutir biji dengan cara mencongkel atau mengupasnya, tumbuhan yang dihasilkannyapun akan cacat dan terganggu selamanya.
Kendati banyak iklan menawarkan berbagai makanan suplemen untuk ibu hamil agar bayinya bisa tumbuh sehat, jangan terkecoh seakan-akan makanan sejenis itulah yang menumbuhkan bayi Anda. Tanpa makanan semacam itu pun, bahkan seandainya tanpa dikehendaki oleh si ibu sekali pun, tetap saja ada daya pertumbuhan yang tak bisa dihalangi dalam diri bayi tersebut. Y ang bisa kita buat hanya memberikan ruang, kondisi, dan memenuhi kebutuhan agar proses pertumbuhan itu tak terhalang. Hal yang sama terjadi ketika anak sudah berada di luar kandungan, yakinilah bahwa ada daya pertumbuhan yang secara alamiah mendorong dan menempuh jalannya sendiri. Bayangkan sebatang tanaman, sore hari berupa tunas, pagi harinya sudah berubah menjadi daun atau bunga atas kekuatannya sendiri. Ada pengalaman menarik dari seorang bapak ketika menjalani sebagai tahanan politik sementara anaknya masih kecil-kecil. Suatu hari saya sempat bertanya bagaimana caranya mengatasi rasa rindu dan kecemasannya terhadap anak-anak yang ditinggalkannya. Lalu ia bercerita bahwa kerinduan terhadap anak-anak memang merupakan siksaan terberat yang harus dijalaninya sampai suatu ketika ia disadarkanmoleh sebatang tanaman yang tumbuh di luar pagar. Tiba-tiba ada sebatang pohon menyembul dari balik pagar, semula tak pernah kelihatan karena tingginya masih di bawah pagar. Hari pertamanya hanya tampak tunas kecil, hari berikutnya semakin naik dan seterusnya bertambah tinggi hingga menjadi sebatang pohon yang menjulang melampaui pagar. Tanpa sadar bapak tersebut terus mengamati pertumbuhan tanaman itu dari hari ke hari di tengah kesepian hatinya. Kegelisahan dan kekhawatirannya mengenai bagaimana nasib anak-anaknya sepeninggal dirinya (ia tak pernah tahu apakah besok masih hidup atau sudah hilang), tiba-tiba diganti kesadaran baru melalui tanaman tersebut. Katanya dalam hati, “Anak-anakku pun sama dengan pohon itu, ia tetap tumbuh dan berkembang ada maupun tidak ada aku. Kalau Tuhan tetap berkarya terhadap pohon itu, Ia pun tak akan berhenti menumbuhkan anak-anakku”. Kesadaran baru ini membuat dirinya terbebas dari kegelisahan bahkan memberi harapan baru, karena perasaan-perasaan negatif justru diganti dengan kegairahan berpikir positif tentang perkembangan anak-anaknya. Ia selalu membayangkan hal-hal positif terhadap ank-anaknya, dan memelihara keyakinan bahwa suatu saat nanti pasti berjumpa. Ketika bapak itu telah dibebaskan, ternyata anak-anaknya memang tumbuh dengan baik kendati dalam situasi sulit.
Kecemasan dan kegelisahan bersumber pada ketakutan yang belum diketahui, di samping harapan-harapan yang berlebihan, orang tua pun seringkali mencemaskan anak-anaknya tanpa alasan yang jelas. Ada orang tua yang cemas melihat anaknya belum lancar bicara sementara anak tetangga yang sebaya sudah fasih. Banyak saya jumpai di kelas-kelas Taman Kanak Kanak, orang tua yang cemas melihat anaknya tidak berminat belajar membaca dan lebih suka bermain. Lebih buruk lagi, orang tua mulai memaksakan kehendaknya atas dasar kecemasannya yang tak beralasan. Oleh sebab itu, membangun keyakinan bahwa dalam diri setiap anak sudah terkandung potensi pertumbuhan alamiah, dan saat ini sedang berproses menurut caranya sendiri akan membebaskan kita dari kecemasan dan pemaksaan terhadap anak-anak. Ibaratnya, Sang Penabur sudah menyebarkan benih: ada yang jatuh di tanah subur, di pasir, di bebatuan, bahkan tersangkut di semak. Benih itu pasti dengan kekuatannya sendiri akan berubah menjadi kecambah, namun pertumbuhan selanjutnya akan dipengaruhi lingkungan sekitarnya. Orang tua dan orang dewasa lainnyalah yang bertugas menciptakan lingkungan bagi pertumbuhan benih itu. Tugas kita adalah menjadi tanah subur, dan benih akan tumbuh dengan sendirinya, tak mungkin biji kacang akan tumbuh menjadi tanaman bayam kendati kita menginginkannya.

...
Pendahuluan (Part 3)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar